Tarif Listrik Naik, Pengrajin Batik Batal Pakai Kompor Listrik
Kamis, 15 Juli 2010 | 08:43 WIB
TEMPO Interaktif, Pamekasan - Kenaikan tarif dasar listrik yang diberlakukan awal bulan lalu membuat rencana penggunaan kompor listrik oleh pengrajin batik tulis di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, berantakan. "Kami harus tunda karena kenaikan TDL akan memberatkan pengrajin," Kata Ketua Asosiasi Pengrajin Batik Pamekasan Ilzamudin, Kamis (15/7).
Menurut rencana, kata dia, ada 750 pengrajin yang diarahkan menggunakan kompor listrik. Pertimbangannya, kompor listrik lebih hemat dan bebas polusi dibandingkan kompor minyak.
Awalnya, lanjut Ilzam, penggunaan kompor listrik digenjot karena harga minyak dipasaran terus naik tajam sejak masuknya program konversi gas elpiji hingga mencapai Rp 6 ribu per liter. "Karena TDL naik, minyak tanah masih lebih hemat," ujarnya.
Ilzam mengaku masih akan mendata ulang seberapa banyak pengrajin yang menggunakan listrik berkapasitas 1300 watt. "Kalau yang pakai 900 watt, kita tetap arahkan pakai kompor listrik karena tidak terkena kenaikan tarif," ungkapnya.
Sementara itu, hingga kini kenaikan tarif listrik masih nendapat protes dari pengusaha karena dinilai terlalu memberatkan. Pemerintah merespons protes itu dengan menghitung ulang kenaikan tarif. Ilzam berharap, hitung ulang itu dilakukan menyeluruh termasuk tarif untuk pelanggan 1.300 watt. "Karena sama-sama memberatkan," pungkasnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar